WELCOME TO ARDHA SITE'S. THANKS SO MUCH, PLEASE VISIT AGAIN. Share Your Knowledge although One Word.

Senin, 29 April 2013

Model Pembelajaran

Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu pola pembelajaran yang sajikan oleh pengajar mulai dari awal sampai akhir pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran dapat menghasilkan lingkungan belajar tertentu sehingga peserta didik dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan tingkahlaku peserta didik secara khusus. Melalui pemahaman berbagai model pembelajaran yang banyak dikembangkan di kelas, seorang pengajar dapat mengembangkan strategi pembelajaran lewat pemikiran sebelum yang bersangkutan berada di kelas. Model pembelajaran dapat membantu pengajar dalam penguasaan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan upaya mengubah tingkah laku peserta didik sejalan dengan rencana yang telah ditetapkan.

Hal ini berarti model pembelajaran diharapkan dapat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Umumnya model pembelajaran yang dikembangkan memiliki berbagai jenis sumber yang secara umum akan membedakan pendekatan yang digunakan dengan sasaran akhirnya adalah perubahan tingkah laku peserta didik. Oleh karena itu, kegunaan model pembelajaran bagi pengajar antara lain membimbing, membantu dalam pengembangan kurikulum, penetapan materi pembelajaran dan peningkatan efektivitas pembelajaran.
Membimbing yang dimaksudkan disini adalah menolong pengajar dalam menentukan apa yang seharusnya dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Membantu dalam pengembangan kurikulum berkaitan dengan pemahaman tentang usia peserta didik, sehingga perhatian pengajar di samping pada materi yang akan dikembangkan dalam pembelajaran juga kondisi psikologis yang sejalan dengan usia peserta didik yang dihadapi. Selanjutnya penetapan materi pembelajaran berkaitan dengan macam dan jenis materi yang dipilih dan digunakan pengajar dalam rangka mengubah tingkah laku peserta didik. Melalui pemilihan materi pembelajaran ini kepribadian peserta didik diharapkan dapat terbentuk lewat kebiasaan cara belajar yang dilakukan. 
Akhirnya dari semua hal di atas, efektivitas pembelajaran dapat dicapai lewat pembelajaran yang dilakukan oleh seorang pengajar. Efektivitas merujuk pada aktivitas pengajar yang tidak semata-mata bertindak secara prosedural, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran. 
Makalah ini akan membahas dua model pembelajaran yang sering diterapkan oleh para pengajar di sekolah yaitu model pembelajaran demonstration dan model pembelajaran improve. Model pembelajaran demonstration biasanya digunakan untuk materi pelajaran yang membutuhkan alat peraga/percobaan. Sedangkan model pembelajaran improve merupakan model pembelajaran yang biasanya digunakan jika materi yang diajarkan tidak memerlukan alat peraga. Setiap model ini memiliki keunikan tersendiri dalam setiap langkah-langkah penerapannya. Khusus untuk model pembelajaran improve, langkah-langkah pembelajarannya merupakan singkatan dari kata “improve” itu sendiri. 
Setiap model pembelajaran yang biasa diterapkan di sekolah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk itu diperlukan kreativitas seorang pengajar untuk memilih salah satu jenis model pembelajaran jika akan melaksanakan proses belajar mengajar di kelas agar tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kesalahan dalam memilih model pembelajaran akan menyebabkan pembelajaran tidak efektif dan materi yang diajarkan sulit dimengerti oleh setiap peserta didik.

A.  Model Pembelajaran Demonstration
1.    Pengertian model pembelajaran demonstration
Dalam kamus Demonstration adalah mempertunjukkan atau mempertontonkan.( Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, 1984: 178 ). Menurut Prayogo (2001) pembelajaran model demonstration adalah salah satu cara mengajar atau teknik mengajar dengan memvariasikan lisan dengan suatu kegiatan (penggunaan suatu alat). Model pembelajaran demonstration merupakan model mengajar yang sangat efektif untuk membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep praktek. Dengan model demonstration peserta didik dapat belajar langsung dan mendapat pengalaman yang lain dibandingkan jika peserta didik mendengarkan ceramah pendidik atau sebatas membaca buku teks.
Sedangkan menurut Muhibbin Syan (2005) pembelajaran model demonstration adalah mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran demonstration adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada peserta didik. Dengan menggunakan model ini pendidik atau peserta didik memperlihatkan kepada seluruh anggota kelas mengenai suatu proses.(Taufik, 2010)

2.    Langkah-langkah model pembelajaran demonstration
Adapun langkah-langkah model pembelajaran demonstrasi adalah
a.    Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:
1)  Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan dan keterampilan tertentu.
2)   Persiapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan.
3)   Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.
b.    Tahap pelaksanaan
1)   Langkah pembukaan

Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:
a)    Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat melihat dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
b)   Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai peserta didik.
c)    Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, misalnya ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2)   Langkah pelaksanaan demonstrasi
a)  Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang peserta didik untuk berfikir. Misalnya pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong peserta didik tertarik untuk memperhatikan demonstrasi.
b)   Ciptakan suasana yang menyejukkan dan menghindari suasana yang menegangkan.
c)    Yakinkan bahwa semua peserta didik mengikuti jalannya demonstrasi.
d)   Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi.
3)   Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah peserta didik memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, sebaiknya pengajar dan peserta didik melakukan evaluasi bersama tentang jalannya demonstrasi untuk perbaikan selanjutnya. (Afifatul, 2008)

3.    Kelebihan model pembelajaran demonstration
Pada hakikatnya, semua metode itu baik dan tidak ada yang paling baik atau paling efektif, karena hal itu tergantung kepada penempatan dan penggunaan metode terhadap materi yang sedang dibahas. Yang paling penting, pendidik mengetahui kelebihan dan kekurangan metode-metode tersebut. Model demonstrasi ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk memberikan keterampilan tertentu, memudahkan berbagai jenis penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas, menghindari verbalisme, membantu anak dalam memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab lebih menarik.
Kelebihan model pembelajaran demonstrasi adalah
a.    Demonstrasi dapat mendorong motivasi belajar peserta didik.
b.    Demonstrasi dapat menghidupkan pelajaran karena peserta didik tidak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
c.    Demonstrasi dapat mengaitkan teori dengan peristiwa alam lingkungan sekitar. Dengan demikian peserta didik dapat lebih meyakini kebenaran materi pelajaran.
d.    Demonstrasi apabila dilaksanakan dengan tepat, dapat terlihat hasilnya.
e.  Demonstrasi seringkali mudah teringat daripada bahasa dalam buku pegangan atau penjelasan pendidik.
f.    Melalui demonstrasi peserta didik terhindar dari verbalisme karena langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan. 
Manfaat model pembelajaran demonstrasi yang terpenting adalah memberi ilustrasi dan memperjelas konsep-konsep dan penerapannya. Sebab melihat benda nyata bagi peserta didik lebih terkesan dari pada membaca atau melihat gambarnya saja.
4.    Kelemahan model pembelajaran demonstration
Model pembelajaran selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kelemahan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000), antara lain:
a.    Peserta didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b.    Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan . (Eka Gunawan, 2009)
d.   Demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan model ini tidak efektif lagi.
e.    Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan dan tempat yang memadai berarti penggunaan model ini lebih mahal jika dibandingkan dengan ceramah.
f.     Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.

B.  Model  Pembelajaran Improve
1.    Pengertian model pembelajaran improve
Model pembelajaran improve merupakan singkatan dari introducing the new concept, metakognitive questioning, practicing, reviewing and reducing difficulties, obtaining mastery, verification and enrichment. (Herdian, 2009)
2.    Langkah–langkah model pembelajaran improve
Setiap kata dari singkatan model pembelajaran improve merupakan langkah dalam pembelajaran yaitu
a. Introducing the new concept. Peserta didik diberikan suatu konsep baru oleh guru tanpa memberikan hasil akhir atau bentuk jadinya saja. Konsep ini diberikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat peserta didik terlibat secara aktif dan dapat menggali kemampuan diri mereka sendiri.
b.    Meta-cognitive questioning. Pertanyaan yang dapat diajukan guru kepada peserta didik meliputi pertanyaan pemahaman misalnya seorang guru memberikan permasalahan kepada peserta didik mengenai suatu materi, setelah itu guru bertanya kepada peserta didik, “Apa masalah ini?”, pertanyaan koneksi merupakan pertanyaan mengenai apa yang peserta didik dapat sekarang dengan apa yang telah didapatnya dahulu, misalnya, “Apakah masalah sekarang sama atau berbeda dari pemecahan masalah yang telah anda lakukan dimasa lalu?”. Pertanyaan strategi berkaitan dengan solusi-solusi yang akan diajukan peserta didik untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya seperti “Strategi apa yang cocok untuk memecahkan masalah tersebut?” dan pertanyaan refleksi yang mendorong peserta didik ntuk mempertimbangkan cara atau strategi yang telah diajukannya seperti “Apakah strategi itu merupakan solusi yang masuk akal untuk memecahkan masalah ini?”.
c.    Practicing. Peserta didik diajak untuk berlatih memecahkan masalah secara langsung. Hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan penguasaan materi dan mengasah kemampuan serta keterampilan peserta didik.
d.   Reviewing and reducing difficulties. Biasanya pada saat latihan langsung, peserta didik banyak mengalami kesulitan. Pada tahap ini guru mencoba untuk melakukan review terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi para peserta didik dalam memahami materi dan memecahkan permasalahan.
e.   Obtaining mastery. Peserta didik diberikan tes yang bertujuan untuk mengetahui penguasaan materi.
f.     Verification. Pada tahap ini, dilakukan identifikasi peserta didik mana yang telah mencapai batas kelulusan yang dikategorikan sebagai peserta didik yang sudah menguasai materi dan mana yang belum mencapai batas kelulusan yang dikategorikan sebagai peserta didik yang belum menguasai materi.
g.    Enrichment. Pada tahap ini dilakukan pengayaan terhadap peserta didik yang belum menguasai materi dengan kegiatan remedial. (Dewi Yuningsih, 2007)

Pada tahap pertama, guru memberikan konsep baru (Introducing the new concept) terkait materi yang akan disampaikan menggunakan media pembelajaran dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali kemampuan peserta didik sendiri seperti; (1) rumus apa saja yang kalian ketahui?, (2)bagaimana penggunaan rumus-rumus tersebut?

Selanjutnya, peserta didik dihadapkan pada suatu kasus mengenai materi yang terkait. Setelah itu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif (meta-cognitive questioning) terkait materi pembelajaran seperti; (1) Mengenai apa keseluruhan masalah ini?, (2) Bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah tersebut?, (3) apa perbedaan kasus ini dengan kasus yang telah dijelaskan sebelumnya?.

Kemudian peserta didik berlatih (practicing) untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang diberikan oleh guru. Pada tahap ini guru berkeliling untuk memantau latihan yang dilakukan oleh setiap peserta didik serta memberikan bimbingan dan bantuan terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan (reviewing and reducing difficulties). Setelah latihan, peserta didik mencatat semua kegiatan yang telah dilakukan terkait materi pembelajaran. Terakhir peserta didik mengisi jurnal harian yang telah disiapkan oleh guru.

Setelah melakukan pembelajaran, pada pertemuan berikutnya peserta didik diberikan tes (obtaining mastery) untuk mengetahui penguasaan materi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Dari hasil tes tersebut guru melakukan verifikasi (verification) untuk mengetahui peserta didik mana yang telah mencapai batas kelulusan dan mana yang belum. Langkah selanjutnya adalah pengayaan (enrichment). Pengayaan ini dilakukan khususnya bagi peserta didik yang belum mencapai batas kelulusan. Ini mendorong setiap peserta didik untuk lebih memahami konsep yang diajarkan.

1.    Kelebihan model pembelajaran improve adalah
Kelebihan model pembelajaran improve dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya adalah
a.    Pembelajaran dengan model improve membuat peserta didik lebih aktif karena terdapat latihan-latihan sehingga setiap peserta didik leluasa untuk mengeksploitasi ide-idenya.
b.  Suasana pembelajaran dengan model improve tidak membosankan karena banyaknya tahap-tahapan yang dilakukan peserta didik dalam model ini.
c.    Adanya penjelasan di awal dan latihan-latihan membuat peserta didik lebih memahami materi. (Dewi Yuningsih, 2007)
2.    Kelemahan model pembelajaran improve
Model pembelajaran improve memiliki beberapa kelemahan antara lain:
a.    Guru harus mempunyai strategi khusus agar semua peserta didik dapat mengikuti langkah-langkah yang ada dalam model pembelajaran ini.
b.   Kemampuan peserta didik tidak sama dalam menyelesaikan permasalahan ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan sehingga diperlukan bantuan dan bimbingan khusus oleh guru. Ini berarti waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan materi cukup lama.
c.    Tidak semua peserta didik mempunyai kemampuan dalam mencatat informasi yang didengarkan secara lisan.
 

 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Follow by Email

Google+ Followers

Nomor Kunjungan anda:

Translate